Sidak – Silaturahim Mendadak (1)

Ahad itu, jadi pula saya berangkat ke kota Jeonju (전주), kira-kira 60 km sebelah Selatan kota Daejeon. Untung saja rekan seperjuangan saya, DP, begitu sigap membangunkan saya, hampir saja bablas terjebak di alam mimpi.  Dengan bus dalam kota, kami awali dengan menyusuri sisi Timur Daejeon yang sudah lebih dulu hangat . Tibalah di Terminal Bus Ekspres Dongbu (동부) yang jauh di pinggir kota; lalu kami memesan tiket dan berangkat menuju Jeonju yang tersohor atas Bibimbap-nya. Baru 10 menit berjalan, bus berhenti di suatu halte yang tidak asing bagi kami. Oh, ternyata busnya mampir ke halte ini. Oh, kenapa kita tidak naik dari halte ini saja, lebih dekat dengan kampus. Oh, setelah enam bulan hidup di Daejeon saya pun tidak tahu cara pergi ‘keluar’ dari kota ini. Oh, ternyata saya terlalu asik bermain di halaman rumah saya. Oh, ternyata ini pelajaran pertama pagi ini.

Asrama Chonbuk National University

Asrama Chonbuk National University

Kami mendarat manis di Terminal Bus Jeonju yang terletak di tengah kota. Bermodalkan panduan GPS di Google Maps pada android, saya mencari taksi dan meminta diantar ke kampus Chonbuk National University (전북대학교).  Sembari taksi melaju, kami memandang ke luar jendela, melihat suasana kota Jeonju yang tenang dan damai. Tidak begitu berbeda dengan kota Daejeon, kecuali skala bangunan yang lebih kecil, gaya bangunan dan tata kota tampak serupa. Kurang dari 15 menit kami tiba di gerbang kampus, tapi kami tidak tahu harus mendarat dimana. Kami berdebat dan memutuskan untuk masuk ke dalam, kemanapun, karena kampusnya luas, demikian Google Maps saya berdongeng. Supir taksi pun pusing dan melajukan sendiri mobilnya, mencari jalannya sendiri. Pun kami tersesat dan mendarat keras di depan asrama, entah asrama apa. Karena saya, sehari sebelumnya, berjanji untuk bertemu di kampus, tapi belum merinci di sebelah mana. Dan karena saya juga, dua hari sebelumnya, baru berkenalan via jejaring sosial semata bersumber dari teman saya. Bahwa ada seorang mahasiswi Indonesia yang belajar di universitas ini, yang kemudian dia menceritakan bahwa ada empat mahasiswa lain disini. Akhirnya, ternyata ada lima pejuang hebat yang berkarya di kampus yang konon terluas ketiga di Korea ini. Bahwa kami, selama ini,  tersesat  dalam labirin pencarian para pejuang intelektual sebangsa setanah-air. Dan, disini, di Jeonju, kami sambung asa bersama dengan mereka.

Teratai Chonbuk National University

Danau dan hamparan teratai mekar.

Kami dipandu menuju danau luas di tepian kampus. Hawa hangat semerbak mendramatisir pandangan indah ini, hamparan bunga teratai mekar menjulang memenuhi sebagian danau. Amboi. Amboi. Amboi, begitulah ajaran guru bahasa zaman dulu. Saya masih tertegun kagum, sementara kaki saya berayun terombang-ambing jembatan gantung ini. Helaan nafas panjang penuh perasaan lega menggaungi diri saya, sembari bergumam bahwa ada hal lain di luar halaman rumah sendiri yang indah dan memesona. Para pejuang data dan aksara itu menuntun kami ke sebuah cafe kecil di tengah danau, di ujung jembatan gantung, dan di atas lantai dua. Dan masih mata ini dimanjakan oleh para mahkota teratai itu. Amboi! Kami berdua dan mereka bertiga adalah orang asing satu sama lain, kami belum pernah bertemu, kami belum pernah berbicara. Satu-satunya pertalian kami dan mereka adalah kesamaan nasib bahwa kita adalah mahasiswa asing disini lengkap dengan segala konsekuensinya.

Minuman coklat dingin itu saya nikmati perlahan karena saya tak mau melewati momen terbaik bersama para pejuang yang baru saja kami ‘temukan-kembali’. Kami dan mereka saling memperkenalkan diri, kami bercerita tentang kehidupan kami di Daejeon, dan mereka bertukar cerita tentang kehidupan mereka di Jeonju. Mulai dari prikehidupan kampus, akademik, hingga prikemanusiaan di lab dan ‘cerita’ standar para kaum terpelajar di Korea ini. Sembari demikian, kami kemukakan tujuan yang membawa kami kemari adalah tak lain untuk menyambung tali silaturahim, untuk berkenalan, dan sekaligus jalan-jalan. Semula kami menyangka hanya ada seorang mahasiswa di sini, namun ternyata ada lima mahasiswa: dua mahasiswa pertukaran pelajar, dan tiga mahasiswa doktoral yang sudah lumayan lama (baca: tahunan) di sini. Alhasil, kami bertanya pada diri kami sendiri mengapa baru saat ini mereka bisa di-‘temukan-kembali’. Mengapa kota Jeonju yang strategis ini bisa luput dari gaung semarak persatuan pelajar di Korea ini.

Matahari telah meruntuh ke sisi barat, terik sinarnya terpantul silau di permukaan danau. Perkenalan berumur secangkir coklat dingin itu pun berakhir saat itu juga, namun cerita perkenalan ini akan terus bergulir dan berlanjut. Bagi saya, perkenalan ini adalah momen awal dan pelajaran penting untuk bisa melangkah bersama. Dan kini, tiada lagi istilah kami dan mereka, yang ada hanyalah ‘kita’. Kita, dimanapun kita berada, adalah pelajar Indonesia!

Bersambung…

Bersama para penggiat ilmu Chonbuk National University

Bersama para penggiat ilmu Chonbuk National University

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s