Waldpolenz Solar Park

Salah satu sumber energi terbarukan yang berhamburan percuma adalah sinar matahari. Selain tumbuhan yang memanfaatkannya untuk berfotosintesis, manusia juga memanfaatkannya, tapi hanya sebatas sebagai sumber panas: menjemur pakaian dan memanasi air. Padahal sinar matahari ini menyimpan energi foton yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik. Tentunya dengan bantuan teknologi yang lazim disebut teknologi Photovoltaic (PV), atau Solar Cell, atau juga Sel Surya. Teknologi ini memanfaatkan kemampuan suatu material yang menyerap sinar matahari dan mengubahnya menjadi listrik. Aplikasinya adalah sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Karena di negara kita belum ada PLTS raksasa, maka tak mengapa bila kita melirik lebih jauh ke Jerman, tepatnya Waldpolenz di Saxony. Saat ini, PLTS terbesar di dunia berada di sana dengan kapasitas 40 megawatt (MW) peak, karena akan ada yang lebih besar lagi 80 MW di California AS, 154 MW di Victoria Australia, dan 190 MW di Italia yang kini masih dalam tahap pembangunan. Waldpolenz Solar Park yang akan mulai beroperasi pada bulan Juni tahun ini, dibangun oleh Juwi Group, sebuah perusahaan Jerman, sedangkan modul suryanya disuplai oleh First Solar. Proyek raksasa ini menghabiskan 201 juta dolar amerika atau sekitar 2 trilyun rupiah dan direncanakan beroperasi selama 20 tahun. Adapun luas lahan yang ditempati oleh pembangkit ini adalah 2 kilometer persegi, setara 200 lapangan sepak bola. PLTS yang menggunakan 550.000 modul surya jenis thin film ini mampu menyuplai kebutuhan listrik untuk 40.000 rumah. Uniknya, pembangkit ini menempati lahan bekas pangkalan militer yang tidak terpakai.

Seandainya, lahan kritis di Indonesia yang berjumlah 30 juta hektar tahun 2009 ini, dimanfaatkan seperti Waldpolenz Solar Park di Jerman sana, mungkin krisis listrik yang melanda sekarang sedikit teratasi. Dengan target pembangunan 10.000 MW, diperlukan serupa Waldpolenz Solar Park sebanyak 250 buah, dengan luas 500 km persegi atau 50.000 hektar, atau sekitar 0,17% dari lahan kritis di Indonesia. Investasi yang diperlukan memang sekitar 500 trilyun rupiah, amat sangat besar (dibandingkan subsidi BBM tahun 2009 sekitar 100 trilyun), namun selama 20 tahun kita gratis listrik, dan sangat membantu lingkungan mengurangi efek rumah kaca dengan reduksi 5,6 juta ton karbondioksida per tahun per 1000 MW listrik untuk pembangkit batu bara. Tentunya juga tidak sekadar membangun pembangkit listrik tenaga surya raksasa dengan mengimpor modul surya dari luar negeri lalu kita tinggal memasangnya. Tetapi sebisa mungkin membuatnya sendiri sehingga mendorong tumbuhnya industri photovoltaik di dalam negeri, serta merangsang berkembangnya industri semikonduktor di tanah air. Masak sih, kita harus mengekspor pasir silika terus dengan harga murah pula, lalu mengimpor produk silikon dalam bentuk elektronika seperti panel surya dengan harga mahal.

5 thoughts on “Waldpolenz Solar Park

    • kan sudah dirancang drainase di permukaan tanah di bawahnya,
      kalau panel suryanya kan sudah dibungkus rapat, jadi tidak kemasukan air,
      kecuali banjirnya menenggelamkan semuanya…
      musibah namanya….hwhwhw

    • efisiensinya standar untuk komersil yok, 12-15% kira-kira…
      enakkan klo 20 tahun bebas listrik,
      tapi di negara kita aturannya belum ada mengenai jualan listrik dari PV ke grid, pioneernya ya Jerman… makanya disana berkembang pesat, jadi multiplier effect gitu, alhasil industrinya jalan…
      klo di kita baru jualan listrik panas bumi…
      cmiimw….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s